Pertobatan Untuk Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama

Daftar Isi


Pada hari Kamis, 2 April 2026, setelah Misa Kamis Putih ke-2 adalah suatu kebanggan kelompok kategorial PDPKK St. Clara, Paroki Bekasi Utara di beri tugas sebagai penggerak utama dalam Ibadat Tuguran yang di adakan di Ruang Adorasi, di Lantai 2, dalam Gedung Karya Pastoral Gereja St. Clara dengan tema: Pertobatan untuk merawat bumi, Rumah kita Bersama.

Tuguran adalah adorasi sederhana karena kita menemani Yesus Kristus di awal penderitaan-Nya, yaitu ketika Ia berdoa di Taman Getsemani. Di dalam Tuguran kita turut meresapi betapa sedih hati Tuhan kita dan untuk itu kita berjaga bersama-Nya. Ibadat Tuguran dilakukan setelah prosesi perarakan Sakramen  Maha Kudus di Misa Kamis Putih yang kedua, 2 April 2026, dari Altar Gereja Santa Clara, menuju Tabernakel Reposisi di Ruang Adorasi dalam Gedung Karya Pastoral Santa Clara di lantai 2.



Setelah Misa Kamis Putih yang memperingati Perjamuan Malam Terakhir Yesus Kristus Bersama muridnya, Tabernakel di Altar Utama harus di kosongkan yang melambangkan kekosongan, penyerahan diri, saat Yesus pergi berdoa ke Taman Getsmani, menjelang ditangkap dan wafatNya Yesus Kristus.

Ibadat Tuguran di pimpin oleh Frater  Gabriel Hugo Bagas, setelah diawali dengan Doa Pembuka, dilanjutkan dengan Bajaan Kitab Suci, yang di ambil dari Kitab :

Kejadian 2 : 15-17

2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Frater Bagas mengingatkan pesan - pesan dalam permenungan dalam Ibadat Tuguran ini :

- Keheningan Getsemani dan Ratapan Bumi : Di Getsemani, Yesus mengalami ketakutan dan kesedihan yang mendalam. Malam ini, kita diajak mendengar rintihan bumi yang terluka akibat polusi, eksploitasi berlebihan, dan krisis iklim. Bumi adalah "saudari" dan "ibu" kita yang sedang memeluk kita namun ikut terluka oleh tindakan kita.

Apakah saya masih acuh tak acuh terhadap kerusakan lingkungan? Apakah gaya hidup saya menyumbang pada kehancuran bumi yang seharusnya menjadi rumah bersama yang nyaman?

- Yesus berdoa, "Jangan seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki". Ini adalah ajakan untuk melepaskan egoisme manusia yang ingin menguasai bumi. Manusia dipanggil untuk "menjaga" dan "merawat" ciptaan, bukan merusaknya.

Apakah saya sudah mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan (menghemat air/listrik, mengurangi sampah plastik, merawat tanaman) sebagai wujud ketaatan kepada kehendak Allah?

- Merawat alam adalah bagian dari iman dan bentuk nyata kasih kepada sesama manusia yang menanggung dampak kerusakan lingkungan.  Tuguran ini adalah saat yang tepat untuk membasuh kaki bumi melalui Pertobatan ekologis yang berarti berani berkomitmen untuk tidak lagi menyia-nyiakan sumber daya bumi. 

Apakah saya mau terjaga dan bertindak nyata (misalnya, melalui aksi nyata seperti memilah sampah atau menanam pohon) sebagai wujud partisipasi dalam "menemani" Yesus yang menderita dalam ciptaan-Nya?

Ibadat Tuguran ini dihadiri oleh sekitar 100 umat, di lanjutkan dengan Adorasi oleh masing-masing Umat secara Pribadi sampai dengan pukul 00:00 WIB.

Kontributor : Anastasia Amanda
PDPKM St. Clara

Posting Komentar

HOT INFO: Sabtu tanggal 2 Mei 2026: REKOLEKSI PEWARTA/PENGAJAR/TIM di GKP Paroki Harapan Indah. Minggu tanggal 3 Mei 2026: Tugas Dekenat Bekasi PW di SAMADI